![]() |
|
#1
|
|||
|
|||
|
Kutip:
BAYANGKAN, lukisan dan film kini bisa dinikmati para penyandang low vision bahkan tunanetra. Jangankan dulu. Beberapa tahun ke belakang saja, ide bahwa lukisan bahkan film bisa "bertutur" kepada penyandang disabilitas netra ini pun mungkin tak terbayangkan. Ini berlaku juga untuk teks yang pembacaannya butuh tanda baca tambahan, seperti tulisan dalam bahasa Arab yang butuh tanda baca untuk bisa "berbunyi" sebagaimana bacaan seharusnya. Sebelumnya, penyandang tunanetra harus mencukupkan diri membaca tulisan Arab tanpa tanda baca terpasang langsung di huruf bertanda baca itu, yang baru dimungkinkan oleh huruf Braille. Seperti Braille latin, Braille Arab juga merupakan simbol dalam enam titik. Tanda baca juga merupakan simbol titik yang berbeda. Dalam sistem huruf Braille yang ada, tanda baca diletakkan terpisah di sebelah huruf yang seharusnya diberi tanda tersebut. Misal, kata bismi, akan ditulis dalam huruf Braille dengan urutan huruf ba, tanda baca kasrah, huruf sin, tanda baca sukun, huruf mim, dan tanda baca kasrah berderet. Beberapa huruf Arab dan kata dalam bahasa ini juga belum dapat sepenuhnya dikonversi ke sistem huruf Braille yang ada sekarang. Sudah begitu, ketersediaan bahan bacaan—termasuk kitab suci berbahasa Arab—dalam huruf Braille juga masih sangat terbatas. Kini, semua hal itu mulai memungkinkan terjadi, dengan kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). "Selama ini, problem tunanetra itu apa? Kan foto, gambar. Makanya kita selalu minta ada labelnya. Nah, dengan AI ini sekarang semua bisa diakses," kata Executive Director dan Co-Founder Mitra Netra Foundation, Bambang Basuki, Selasa (30/4/2024). Sebelumnya, yayasan yang Bambang pimpin telah membuat perangkat lunak (software) untuk mengonversi bahan ajar dari guru atau materi umum yang tersedia menjadi tulisan dalam huruf Braille yang bisa dicetak, dan sebaliknya dari huruf Braille ke tulisan latin. Dengan bantuan AI, software tersebut berkembang lagi, mampu "membaca" dan "menyuarakan" gambar dan foto dari beragam objek yang kemudian dapat dikonversi ke huruf Braille dalam rupa teks yang juga dapat dicetak. Ini termasuk untuk objek berisi materi tulisan Arab. Yang menarik, keberadaan AI ini tak mengharuskan para penggunanya untuk mengerti secara mendalam soal pemrograman dan teknologi informasi. Bambang bertutur, yang penting ada ide yang disodorkan dan AI akan membantu mengembangkan perangkat lunaknya. Tentu, penggunaan AI tidak itu saja. Ada spektrum teramat luas yang sekarang terbuka untuk dijelajahi bersama, seturut geliat perkembangan AI. Terlebih lagi, AI saat ini sudah memasuki babak baru yang disebut sebagai generative AI. Beragam aktivitas rutin manusia bisa dipangkas dan atau dipercepat dengan bantuannya. Pertanyaan besar yang lalu muncul, akankah AI benar-benar menjadi berkat bagi manusia dan kemanusiaan dengan segala kemudahan dan solusi yang ditawarkan? Atau, apakah AI malah menjadi ancaman, termasuk di lini pekerjaan yang selama ini dikerjakan manual oleh manusia? Kompas.com berkesempatan secara eksklusif mewawancarai CEO Microsoft Satya Nadella di sela gelaran Microsoft Build: AI Day yang berlangsung di Jakarta pada pengujung April 2024. CEO Microsoft, Satya Nadella, saat diwawancara Kompas.com di sela gelaran Microsoft Build: AI Day di Jakarta, 30 April 2024. Dalam perbincangan eksklusif tersebut, Nadella memastikan komitmen perusahaannya untuk selalu hadir membangun platform teknologi, yang akan tersedia di setiap negara melalui ekosistem mitra yang sangat kaya. "Dengan ini, pihak-pihak lain dapat membangun lebih banyak teknologi," ungkap Nadella. Microsoft, lanjut Nadella, tidak semata bicara soal produk milik sendiri tetapi juga tentang produk pihak lain yang dibangun menggunakan teknologi Microsoft. Menurut dia, ini yang terjadi ketika pada 1975 orang-orang memakai Microsoft Basic untuk Altair dan hari ini saat orang-orang menggunakan Azure untuk membangun aplikasi-aplikasi AI. "Ini bukan tentang teknologi apa pun, melainkan identitas perusahaan dan bagaimana itu diterjemahkan menjadi keunggulan suatu negara. Menurut saya, itulah yang menjadi fokus kami selama ini," ungkap Nadella. Lebih khusus soal AI, Nadella menegaskan keberadaan teknologi ini bak copilot di pesawat terbang. Pilotnya, tegas dia dalam analogi yang sama, tetap adalah manusia. Bedanya, ungkap Nadella, manusia dalam peran pilot yang didampingi AI sebagai copilot ini sekarang memiliki kemampuan dan sumber pemberdayaan baru untuk bisa berbuat lebih banyak. "Jadi, menurut saya, itulah tujuannya. Kita masih berada di tahapan awal AI. Dalam 10 tahun ke depan, Anda akan melihat banyak kemampuan baru karena daya, skala, dan kebaruan dari AI," ujar Nadella. Ujungnya, Nadella berkeyakinan AI akan menjadi pengungkit dari pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan bagi pembangunan ekonomi, dan tentu saja manusia tetap sebagai pilot dalam analogi pesawat, alias pemegang kendali utama dalam praktik keseharian. Namun, Nadella juga mengingatkan, pada akhirnya, yang menentukan adalah kemampuan setiap orang dan organisasi untuk mengadopsi teknologi baru serta mengubah kebiasaan kerja. "AI akan membawa dampak sektoral yang luas, bukan salah satu saja," tegas Nadella. Dalam momen khusus juga, Kompas.com berbincang mendalam soal AI dengan Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir, pada medio Maret 2024. Seperti halnya Nadella, Dharma mengungkap pula banyak aspek soal AI, termasuk langkah perusahaan dan proyeksi masa depan dari kehadiran teknologi kecerdasan buatan yang terus dan masih akan berkembang ini. Salah satu yang sama-sama diyakini Nadella dan Dharma, AI harus dipandang dan ditempatkan sebagai entitas yang membantu manusia menghadirkan kemampuan optimal dalam keseharian. Karena sifatnya membantu, peran utama tetap ada pada manusia yang menggunakannya. Dalam rangkaian tulisan bertutur, JEO Kompas.com merunut jejak langkah AI dari logic awal yang digunakan hingga generasi terkini. Dalam bab terpisah, JEO Kompas.com mengurai khusus babak baru AI yang saat ini memasuki era generative AI. Sebagai penutup, JEO Kompas.com mengupas proyeksi masa depan penggunaan AI bagi manusia dan kemanusiaan. Termasuk, sampai di manakah ujung dari perkembangan AI pada masa depan? Seperti biasa, semoga bermanfaat dan membantu menambah wawasan .... ![]() << SUMBER >> |
![]() |
|
|